SEJARAH PERKEMBANGAN VERSI-VERSI BIBEL


Semasa hidupnya, Isa al-Masih menggunakan bahasa yang umum dipakai di kawasan Palestina, yaitu bahasa Arami dan bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani adalah salah satu dialek yang termasuk dalam bahasa Arami. Akan tetapi, naskah Bibel yang tertua masih ada hingga sekarang ditulis dalam bahasa Yunani, bukan dalam bahasa Ibrani atau Arami yang digunakan oleh Isa Al-masih dan para Hawari. Dalam sejarah disebutkan bahwa naskah tertua dari Injil-Injil itu berasal dari sekitar tahun 175 sampai 200 setelah wafat Isa Al-Masih.

Mengenai terjemahan Bibel dalam tulisan dan dialek Suryani yang dikenal dengan nama “Peshitta” dan masih lestari hingga sekarang, sebenarnya adalah hasil terjemahan dari Bibel berbahasa Yunani. Demmikian pula halnya naskah Bibel berbahasa Latin yang dinamai “Vulgate” juga hasil terjemahan Bibel berbahasa Yunani. Selain itu, menurut pastor Chediac, naskah Nasrani pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ditulis di perpustakaan Santo Petrus pada tahun 1060 Masehi (Lihat, “Azh-zhahirah al-Qur’aniyyah”, Malik Ibn Nabi).
Terjemahan Bibel pertama dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris baru muncul pada tahun 1536 yang dilakukan oleh William Tendell. Akibat usahanya itu, William Tendell divonis mati oleh pihak Gereja melalui cara dibakar dengan dalih bahwa penerjemahan itu telah merusak kandungan Bibel. Secara factual, sampai saat itu Gereja memang masih menganggap Bibel hanya boleh dipelajari oleh para agamawan dan terlarang bagi orang umum. Tetapi anehnya, hasil terjemahan William Tendell justru kelak dijadikan patokan bagi beberapa versi terjemahan Bibel dalam bahasa Inggris yang muncul selanjutnya.
Pada tahun 1582, Gereja Katolik Roma menerbitkan terjemahan Bibel versi khusus di Kota Rheims. Hasil terjemahan ini kemudian diterbitkan lagi untuk kedua kalinya pada tahun 1609 di Kota Douay dan menjadi naskah terjemah resmi tua yang merujukpada versi Vulgate. Pada tahun 1611, Gereja Inggris (Anglikan) menerbitkan versi terjemahan Bibel yang disebut King James Version (biasa disingkat menjadi KJV), dan juga dinekal dengan nama Authorized Version (AV). Pada tahun 1818 Gereja Anglikan melakukan revisi terhadap versi AV dan menerbitkan hasilnya dengan nama Revised Version yang disingkat RV. Tetapi pada tahun 1952, lagi-lagi Gereja melakukan revisi terhadap Versi RV kemudian menerbitkan hasilnya dengan nama Revised Standard version yang disingkat RSV. Versi yang terakhir ini lalu kembali direvisi pada tahun 1971 dan hasilnya diterbitkan dengan nama yang sama, yaitu RSV. Dalam kata pengantar Bibel versi terakhir ini terdapat kalimat yang berbunyi, “Versi terjemahan ini adalah hasil kerja keras 32 orang agamawan teremuka, didukung oleh komite yang merepresentasikan 50 sekte yang saling membantu.” Dalam kata pengantar ini juga terdapat kalimat yang berbunyi, “Versi Raja James (King James Version, KJV) mengandung beberapa cela yang luar biasa. Karena sedemikian banyaknya cela itu, sehingga mencapai tingkat berbahaya dan perlu diluruskan”.
Perlu disebutkan pula di sini bahwa RSV yang paling mutakhir ini telah menghilangkan satu-satunya ayat berisi dalil doktrin Trinitas yang sebelumnya tercantum di dalam Perjanjian Baru, yaitu ayat pada paragraph ketujuh pasal 5 Surah Yohanes I (lihat: kata pengantar Revised Standard Version/RSV).
Pada tahun 1993, di Amerika Serikatditerbitkan sebuah versi baru dari Injil Kanonik ditambahkan Injil Thomas. Versi baru ini diberi naka Scholars Version atau disingkat SV. Versi mutakhir Bibel ini disusun oleh lebih dari 200 agamawan terkemuka dan para doctor dalam bidang teologi yang tergabung dalam satu lembaga bernama The Jesus Seminar (Lihat: “The Five Gospels Mcmillan Publishing Co). Berkenaan dengan keempat Injil keempat Injil Kanonik¸para pakar teologi ini menyatakan bahwa pada mulanya semua Injil (Gospel) tersebar tanpa menggunakan nama penulisnya. Akhirnya gereja menetapkan nama-nama penulis bagi keempat Injil tersebut. Kebanyakan, penetapan nama iniadalah hasil dari harapan akan tercapainya sebuah niat baik.
Para penyunting versi Bibel ini menetapkan bahwa 82% dari semua ucapan yang dinisbatkan kepada Al-Masih (Yesus Kristus) yang termaktub dalam Injil ternyata tidak benar dan tidak pernah diucapkan oleh Isa Al-Masih. Apalagi, penulisan Injil baru dimulai pada tahun 70 setelah Masehi, dan naskah Injil tertua masih dapat kita temukan sekarang adalah naskah yang ditulis sekitar 175 tahun setelah wafatnya Isa al-Masih. Semua naskah Injil itu berbeda satu sama lain; tak ada satu pun naskah yang benar-benar mirip dengan naskah lainnya. Sudah jelas bahwa para penyusun Injil-Injil memiliki latar belakang budaya Yunani (Helenisme); dilihat dari sentuhan akhir terjemahan kitab-kitab Perjanjian Lama dalam Septuaginta yang memang sangat jelas menunjukkan adanya pengaruh Helenistik tersebut.
Sebenarnya Paupus-lah pembuat agama Kristen yang ada sekarang. Dialah orang yang tulisannya memiliki porsi besar dalam Perjanjian Baru, walaupun sebenarnya ia tidak pernah melihat Isa al-Masih. Isa hanya dianggap sebagai simbol pemikiran Helenistik yang tidak jelas. Di tangan Paulus, Isa sama sekali tidak memiliki misi kerasulan yang jelas.
Selain itu, banyak pernyataan dinisbahkan kepada Isa yang membuatnya menjadi seorang Mesias yang semakin memperkuat keyakinan mereka walaupun telah dilakukan upaya konfirmasi antara pandangan Isa al-Masih dengan perspektif kekristenan. Hal ini tentu dapat menjelaskan mengapa agama Nasrani masa kini sering disebut sebagai “Agama Kristen ala Paulus” (Pauline Christianity).
Indikator tertua tentang keberadaan Injil asli yang tersebar dalam bentuk ucapan adalah pernyataan Paulus dalam surat pertamanya kepada Jemaat di Korintus (15: 3-5). Injil dalam bentuk lisan inilah yang tersebar di dunia Kristenketika Markus mulai menulis Injilnya. Sebagai contoh, di dalam Injil tersebut terdapat nubuat tentang beberapa penyakit yang dinisbahkan kepada Isa al-Masih, dan kemudian disebut dalam Injil Markus (8: 31; 9: 31; 10: 33). Kutipan-kutipan ini diambil Markus dari tradisi lisan yang tersebar di dalam masyarakat Nasrani dan kemudian ia tulis dalamgaya bahasa “Mesianik”. Dari tulisan Markus itu terlihat jelas bahwa semua kutipan tersebut sebenarnya ditulis lama setelah peristiwa yang bersangkutan terjadi. Markus lalu membuat seolah apa yang ditulisnya itu diucapkan langsung oleh Isa. Di sisi lain, para penulis Injil banyak yang menisbahkan pernyataan dan pemikirna mereka sendiri kepada Isa al-Masih agar lebih diterima. Apalagi para penulis itu berkeyakinan hal demikian pantas untuk sesuatu yang harus disampaikan. (Lihat: The Five Gospel, Mcmillan Publishing Co., New York)

0 komentar: